Welcome to OASIS blog, thank you for joining.

Thursday, November 20, 2008

SEBUAH TINJAUAN BAGI GURU

Sebagai seorang pengajar, saat saya membaca artikel psikologi ini, saya tersentuh dari tinjauan saudara Amriel ini. Sebab background pendidikan saya adalah psikologi, masa saya sedikit banyak mengerti pandangan beliau yang psikologis, meski artikel ini menyorot dari sisi psikopatologinya namun cukup relevan. Secara pribadi, saya sepakat yang menjadikan semua keruwetan negara ini atas ketidakmanpuan kita sebagai bangsa mendesain arah pendidikan sebagai salah satu sebab krusial, namun kita sadar bahwa dengan pendidikan bangsa dapat maju dan besar adalah benar.
Bangsa ini dengan enaknya memberikan anak bangsanya untuk belajar secara "penuh" kepada asing, artinya masih ada diantara kita yang bersekolah keluar negeri menerima mentah-mentah dokrin pendidikan mereka tanpa ada balancing dengan bangsa sendiri, bahkan mereka enggan untuk pulang membangun bangsa sendiri.
Di sekolah ada beberapa hal sangat penting yang dianggap sepele bahkan oleh gurunya sekalipun telebih juga didukung oleh dinas terkait. Hal sepele itu adalah menyontek. Disekolah kami, SMP Al Hikmah Surabaya, menyontek adalah dosa besar, kadang saya istilahkan "Koropsinya Anak Sekolah". Sebab, secara prinsip adalah sama yaitu Curang. "Mau jadi koruptor jika sudah besar, silahkan menyontek?"
Berikut artikel lengkapnya :

[ Jawa Pos, Kamis, 20 November 2008 ]
Ada Psikopat di Sekolah
Mengapa siswa gemar menyontek? Pertanyaan ini memang klasik. Tapi, para guru dan otoritas pendidikan sampai kita hari ini masih terus garuk-garuk kepala karena belum berhasil menemukan metode tercanggih untuk menghentikan kebiasaan menyontek anak-anak didik. Bahkan, tak sedikit pula yang "pasrah" dan menganggap perilaku menyontek sebagai kelaziman yang tidak berimplikasi serius.

Pastinya, jangan pandang enteng apabila anak didik -siswa maupun mahasiswa-kedapatan mengandalkan hasil menyontek untuk menyelesaikan tugas-tugas guru atau dosen mereka. Apalagi jika aksi menyontek dilakukan berkali-kali sampai-sampai anak didik tidak lagi percaya bahwa dia mampu menuntaskan pekerjaan sekolah dengan mengandalkan dirinya sendiri.

Itulah pesan tegas yang muncul berdasar riset banyak peneliti. Lawson (2004), misalnya, mengindikasikan bahwa siswa yang melakukan tindakan kebohongan akademik cenderung akan berbohong di tempat kerja.

Kenyataannya, fenomena menyontek lebih serius daripada pandangan umum. Kompleksitas yang terungkap dari temuan-temuan Barat tentang "kejahatan akademis" ini juga relevan dengan situasi di dunia pendidikan Indonesia.

Contohnya, di antara empat ribuan pelajar yang disurvei Rutger's Management Education Center, 75 persen di antaranya diketahui melakukan aksi menyontek dengan bobot yang sudah tergolong serius. Yang mengenaskan, 50 persen di antaranya bahkan menganggap tindakan menyontek bukan sebagai sesuatu yang salah dan perlu dihentikan.

Pada riset lain, saat ditanyakan mengapa menyontek, 80 persen di antara keseluruhan siswa yang diteliti Newberger (2003) beralasan bahwa tindakan terlarang itu tetap mereka lakukan agar berhasil masuk ke sekolah yang lebih tinggi, khususnya universitas. Para penyontek, seperti halnya siswa yang tidak menyontek, yakin bahwa universitas adalah prasyarat mutlak demi pencapaian sukses masa depan. Jadi, tuntutan untuk meraih keberhasilan justru mendorong siswa menjiplak kreasi akademis orang lain, lalu mengklaimnya sebagai hasil belajar mereka sendiri. Ini alasan pertama.

Alasan kedua, plagiat merupakan konsekuensi negatif tingginya tuntutan akademis yang dibebankan ke anak didik. Faktanya, jangankan pelajar tingkat lanjut, pelajar kelas dua sekolah dasar dewasa ini pun saban hari sudah terpaksa menggendong tas sekolah berukuran besar yang dipenuhi buku pelajaran. Muatan pelajaran dalam buku-buku pelajaran mereka jauh lebih penuh sesak ketimbang buku yang saya baca saat masih seusia mereka dua puluhan tahun silam. Beban studi terlalu besar. Alokasi waktu terbatas. Elemen kegembiraan saat belajar, sebagai keharusan bagi siswa tingkat dasar, terpinggirkan. Akibatnya, bersekolah bukan lagi sebuah proses belajar yang mengasyikkan, melainkan semata-mata aktivitas yang keberhasilannya diukur berdasar pencapaian akhir. Demi mengejar target akhir itu, menyontek menjadi "solusi" guna mengatasi keletihan sekaligus cara untuk membahagiakan orang tua, guru, dan pihak-pihak lain selain si anak didik sendiri.

Uraian di atas menghadirkan pemahaman baru. Kontras dengan pandangan awam, menyontek sangat mungkin bukan pertanda kurangnya kecerdasan siswa. Karena aktivitas menyontek kian lama kian canggih, para pelakunya bisa jadi tergolong pintar, kreatif, bahkan mungkin memiliki tingkat kecerdasan superior. Menyontek, dengan demikian, merupakan penanda betapa anak-anak cerdas itu merasa kian frustrasi karena tidak berkesempatan melakukan petualangan dan akrobat intelektual.

Alasan ketiga, menyontek adalah hasil mimikri anak terhadap kelakuan orang-orang yang lebih dewasa. Anak didik menjadikan figur dewasa sebagai acuan moral mereka. Orang-orang dewasa memang tidak menjiplak seperti yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Tapi, aksi mencuri milik orang lain, lalu diikuti dengan memberikan label sebagai milik pribadi, intisarinya sama persis dengan perilaku menyontek. Jadi, maling, koruptor, preman, dan sejenisnya adalah model bagi anak-anak didik untuk menampilkan tindakan sejenis di kelas mereka.

Perilaku orang dewasa seperti menginspirasi siswa melakukan tindakan scholastic psychopathy, di samping mengondisikan mereka pada pandangan bahwa tindakan semacam itu adalah sesuatu yang wajar. Menurut Williams (2002), siswa pada gilirannya menjadi yakin akan keandalan cara-cara antisosial dalam meraih prestasi sekaligus mengalami proses perkembangan moral yang senjang.

Kebiasaan menyontek sejak dini semakin memperbesar predisposisi anak didik untuk kelak berkembang menjadi individu berkepribadian psikopat. Hare (2000) dan Heller (2001) menegaskan hal itu dengan menyebut bahwa individu-individu dewasa berkepribadian psikopat telah memiliki problem tingkah laku sejak usia sebelum tiga belas tahun. Mulai mencuri, berbohong, vandalisme, bullying, aktivitas seksual, membuat kebakaran, mengendus lem, mengonsumsi alkohol, kabur dari rumah, dan -tentu saja- menyontek.

Orang tua melakukan korupsi di tempat kerja. Anak menjiplak tanpa beban, bahkan terorganisasi, di sekolah. Silakan bayangkan, mau ke mana negeri ini!

Reza Indragiri Amriel, ketua jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara - Jakarta (E-mail: r_amriel@yahoo.com)

“ Merebut Jiwa Anak ”

Sejauh mana pendidikan mempengaruhi serta menggerakkan hati dan jiwa anak?. Sekedar cerdas secara kognitif tidak banyak berpengaruh bagi jiwanya
Oleh Mohammad Fauzil Adhim
dari www.hidayatullah.com

CAMPUR aduk perasaan saya ketika Allah Ta’ala memperkenankan saya bertemu dengan buku karya Theodore Herzl, tokoh yang telah menggerakkan jutaan manusia untuk rela berdarah-darah mendirikan negara Israel Raya. Membaca Der Judenstaat –Negara Yahudi—membawa pikiran saya mengenangkan saat-saat penuh persaudaraan dalam Silaturrahmi Nasional di Gunung Tembak. Kenangan yang meng­harukan dan membuat dada saya penuh sesak oleh mimpi-mimpi tentang sebuah stasiun TV, jaringan surat kabar, sekolah-sekolah yang melahirkan manusia besar, lembaga-lem­baga yang menjadi pusat kebajikan sehingga bisa mewujudkan kehendak Islam untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh dan segenap ummat manusia.

Ada keyakinan yang membuat saya tak bisa menulis tema lain kecuali apa yang saya perbincangkan sekarang ini. Ada airmata yang saya tahan agar tidak jatuh ketika saya menuliskan kalimat-kalimat ini. Bukan karena sedih oleh perasaan tidak berdaya, Tuan. Tetapi karena keharuan yang amat kuat dan keyakinan yang begitu mendalam. Insya-Allah, atas pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, suatu saat nanti kita akan mampu mewujudkannya. Tak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis.

Belajar dari orang-orang yang telah berlalu, tidak terkecuali Theodore Herzl yang telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan Israel Raya dengan merampas tanah orang-orang Palestina, ada satu hal yang harus kita catat. Keberhasilan membuat sejarah besar, bukanlah bertumpu pada besarnya kekayaan dan banyaknya orang-orang yang berdiri di belakang kita. Seratus juta manusia yang tipis keyakinannya, akan mudah lari terbirit-birit oleh seribu orang terpilih dengan keyakinan yang sangat kokoh dan keberanian yang sangat besar. Ketika Herzl menulis Der Judenstaat, kaum Ya­hudi adalah orang-orang yang tidak berdaya dan tercerai berai. Tetapi Benyamin Se’ev –nama lain Theodore Herzl—menulis dalam buku hariannya sepulang dari Kongres Basel tahun 1897, “Di Basel, aku dirikan Negara Yahudi. Jika aku katakan dengan lantang hari ini, aku akan disambut dengan tertawaan orang-orang sedunia. Mungkin dalam lima ta­hun, tetapi pasti dalam lima puluh tahun, setiap orang akan menyaksikannya.”

Apa yang membuat Herzl begitu yakin? Media dan kekuatan jaringan. Media memainkan pikiran manusia, menggiring orang yang paling benci sekalipun untuk seku­rang-kurangnya tidak peduli. Media dapat membuat orang menangisi apa yang seharus­nya mereka syukuri, dan merayakan apa yang seharusnya membuat mereka tidak bisa tidur dalam tiga hari karena ngerinya tragedi. Media dapat membuat kebusukan tampak bagus dalam sekejap, dan sebaliknya bisa membuat orang jujur dicaci-maki dan diludahi. Seorang yang telah cukup matang berpikir pun bisa berubah karena tulisan yang dibuat dengan penuh kekuatan. Terlebih anak-anak dan orang muda, media bukan saja mempe­ngaruhi. Ia bisa menentukan hitam putihnya pikiran mereka, meskipun orangtua men­dampingi anak-anaknya hampir setiap hari.

Di antara perusahaan media –sepeninggal Herzl—yang dengan sangat serius menggarap anak-anak adalah Disney dengan berbagai produknya, terutama film kartun. Didirikan oleh Mogul Michael Eisner –seorang Yahudi militan yang sangat fobi pada Islam—The Disney Company bekerja keras melahirkan produk-produk untuk anak. Mereka telah bersungguh-sungguh, berusaha melakukan yang terbaik dan tak berhenti mening­katkan kemampuan. Hari ini, jutaan anak-anak kaum muslimin menanti dengan sabar film-film mereka di layar TV bersama para orangtua mereka –yang terkadang bukan mendampingi, tetapi ikut berebut memelototi. Sebagian masih menawarkan kebaikan, tetapi tak sedikit yang menyuntikkan racun ke dalam pikiran kita, sementara kita menik­matinya dengan senang hati.

Berkenaan dengan pilihan menggarap anak-anak ini, teringatlah saya kepada David McClelland. Atas biaya CIA –lembaga inteligen Amerika—McClelland melakukan penelitian untuk mengetahui semangat kewirausahaan masyarakat berbagai bangsa. McClelland kemudian menyimpulkan bahwa semangat wirausaha sangat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement). Darimana kebutuhan untuk ber­prestasi ini sangat mempengaruhi jiwa mereka? McClelland menunjuk pada cerita anak. Keyakinan ini didasarkan pada hasil analisis proyektif cerita anak dari bangsa-bangsa yang ditelitinya.

Meskipun pendidikan di perguruan tinggi turut berpengaruh pada sikap dan terutama wawasan seseorang, tetapi pengaruh paling kuat yang membekas pada kepribadian adalah masa kecil. Dan cerita anak –termasuk film yang mereka lihat—sangat menentukan besar kekuatan kebutuhan jiwa. Anak yang sudah kokoh jiwanya ketika memasuki masa remaja, insya-Allah mereka tidak mudah terpengaruh –apalagi guncang—oleh hal-hal baru yang ada di sekelilingnya. Menjadi remaja tidak dengan sendirinya berarti mengalami kebingungan jatidiri sehingga mereka sibuk mencari identitas –yang kemudian dijadikan sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang tidak benar. Ada remaja-remaja yang tidak mengalami keguncangan. Mereka telah menemukan jatidiri sebelum memasuki masa remaja. Inilah yang disebut sebagai identity foreclosure.

Pertanyaan kita adalah, mengapa ada yang harus guncang dan kehilangan pegangan sehingga pelajaran agama yang mereka terima semenjak kecil seakan tak berbekas, sementara pada saat yang sama remaja lain tidak mengalami kebingungan identitas? Wallahu a’lam bishawab. Penyebab yang sangat menentukan adalah pendidikan yang mereka terima di masa sebelumnya; sejauh mana mempengaruhi serta menggerakkan hati dan jiwa mereka. Sekedar cerdas secara kognitif atas nilai-nilai tauhid, tidak banyak berpengaruh bagi jiwa. Banyaknya pengetahuan tidak terlalu menentukan apa yang menjadi penggerak utama manusia untuk hidup –McClelland kemudian menganggapnya sebagai kebutuhan (need). Seperti dokter penyakit dalam, sekedar pengetahuan yang mendalam tentang bahaya merokok, tidak cukup untuk membuat mereka berhenti merokok. Itu sebabnya perusahaan rokok dengan senang hati mencantum peringatan pemerintah tentang bahaya merokok di iklan-iklan mereka.

Nah, salah satu cara yang efektif mempengaruhi jiwa anak adalah cerita. Semakin kuat sebuah cerita, semakin besar pengaruh yang menggerakkan jiwa anak. Demikian pula semakin dini mereka membaca cerita-cerita berpengaruh tersebut, semakin kuat bekasnya pada jiwa. Kuatnya pengaruh ini akan lebih besar lagi jika anak-anak itu meng­ungkapkan kembali cerita dan kesan yang ia tangkap melalui tulisan. ‘Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Itu sebabnya, dua keterampilan ini –yakni membaca dan menulis-- perlu kita bangkitkan semenjak dini. Kita gerakkan jiwa mereka untuk membaca semenjak anak-anak itu baru berusia beberapa hari. Kita rangsang minat baca mereka, dan kita ajarkan mereka bagaimana membaca semenjak dini, bukan semata untuk meningkatkan kecerdasan. Lebih dari itu, mudah-mudahan kita tergerak untuk melakukannya karena Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan membaca (iqra’) sebagai perintah pertama. Iqra’ bismirab­bikal ladzii khalaq! Adapun kenyataan bahwa mengajarkan membaca semenjak dini terbukti meningkatkan kecerdasan anak kita berlipat-lipat, itu merupakan hikmah yang kita syukuri.

Tetapi…

Sekedar membuat anak kita terampil membaca dan menulis di usia dini, sama sekali tidak cukup. Kita harus berikan kepada mereka bacaan-bacaan bergizi bagi pikiran, perasaan dan ruhani mereka. Tak cukup kalau kita sekedar mencerdaskan otak. Kita harus menghidupkan jiwa mereka sehingga tumbuh kebutuhan yang sangat kuat sebagai penggerak hidup mereka kelak. Kita harus menulis cerita-cerita anak yang bergizi. Sekarang juga! Tak ada waktu untuk menunggu, sebab setiap detik waktu berlari meninggal­kan kita. Seperti Mogul Michael Eisner, harus ada di antara kita yang berbuat untuk anak-anak. Jika Eisner mewujudkan pengabdian melalui jaringan bisnis The Disney Company, lalu apakah yang akan kita lakukan?

Selebihnya, kita memerlukan buku-buku cerita yang hidup, yakni guru-guru yang memiliki kekuatan jiwa. Mereka inilah penentu masa depan anak-anak. Di tangan para guru, buku-buku yang kurang gizinya dapat dibenahi sehingga menghidupkan hati, menajamkan pikiran dan menggerakkan jiwa anak. Mereka inilah yang harus kita persiap­kan untuk mengantarkan anak-anak kita menyambut seruan perjuangan. Tak perlu tergesa-gesa mendirikan perguruan tinggi. Kalau kita telah mampu membangun kekuatan jiwa pada anak-anak kita sedari playgroup hingga SMP –syukur hingga SMA—melalui sekolah-sekolah yang diasuh oleh guru-guru dengan kekuatan jiwa yang tangguh, kekuatan ruhiyah yang kokoh dan kekuatan ilmu yang matang, insya-Allah kita sudah meng­genggam generasi yang penentu sejarah lima puluh tahun yang akan datang!

Allahu akbar!

Penulis adalah kolomnis tetap rubrik parenting di Majalah Hidayatullah

6 Hal Yang Diperlukan Untuk Melangkah dari Karyawan Menjadi Pengusaha

sumber dari: http://pengusahamuslim.com/

Saya kehilangan pekerjaan! Haruskah saya membuka usaha?

Saya menerima banyak email yang diawali dengan "Saya baru saja kehilangan pekerjaan!" dibagian lain email, pengirim terus bertanya, "Bagaimana saya mulai membuka usaha?"

Banyak orang yang terkena perampingan, diberhentikan, atau dipecat. Dan karena keadaan ekonomi, mendapatkan pekerjaan baru bukanlah hal yang mudah. Menciptakan pekerjaan anda sendiri dengan mulai membuka usaha memang menarik ketika anda tidak mendapatkan pekerjaan - atau tidak betah dengan pekerjaan yang ada sekarang.

Tapi "Bagaimana memulai wirausaha?" bukanlah pertanyaan pertama yang harus anda ajukan jika anda dalam situasi ini; pertanyaan pertama yang seharusnya ditanyakan adalah "Haruskan saya berwirausaha?" Sebelum anda mulai memikirkan jenis bisnis yang akan anda kerjakan, anda harus melakukan beberapa pemikiran tentang diri anda.

Tidak semua orang bisa memulai usaha.
Menjadi wirausahawan sangat berbeda dengan karyawan.
Dan beberapa orang merasa tidak mungkin menyesuaikan perbedaan-perbedaan tersebut.

Mari kita lihat jika anda memiliki mindset pengusaha yang diperlukan.

1. Anda harus fleksibel jika berwirausaha.

Jika anda mulai berbisnis, anda tidak lagi memiliki "sebuah" pekerjaan dengan kewajiban dan tanggung jawab yang telah jelas. Secara tiba-tiba anda memiliki tugas ganda, yang sering terganggu dengan adanya krisis yang tidak terduga (khususnya dalam fase awal). Hari-hari karyawan biasanya diisi dengan aktivitas yang dapat diprediksi; sedangkan pengusaha tidak.

Dan ketika anda memulai usaha, tidak ada orang yang didelegasikan. Sebagai karyawan, anda terbiasa melimpahkan masalah ke bagian diatas anda atau tidak terlibat dalam pengambilan keputusan. Sebagai seorang pemilik usaha, anda adalah orang yang akan berhadapan dengan krisis apapun dan memecahkan masalah. Anda adalah orang yang harus membuat keputusan.

2. Anda harus menjadi pemrakarsa motivasi diri.

Ketika anda menjadi karyawan, orang lain yang menyuruh anda melakukan sesuatu, baik secara langsung ataupun tidak. Anda terbiasa melakukan tindakan yang diarahkan oleh orang lain. Namun, sebagai pemilik usaha, anda harus mengarahkan tindakan anda sendiri. Anda tidak bisa hanya duduk dan berharap klien akan datang atau tiba-tiba seseorang datang dengan membawa inventori toko anda.

Tidak ada orang yang akan memberikan pekerjaan di meja anda atau menunjukkan apa yang perlu diselesaikan. Bagi kebanyakan orang yang mencoba berwirausaha dan memulai bisnis setelah menjadi karyawan dalam waktu yang lama, ini adalah penyesuaian terberat yang dibuat.

3. Anda harus mampu mengenali peluang dan mengejarnya.

Kebanyakan karyawan melakukan apa yang ditugaskan. Ada orang lain yang "ditunjuk" untuk mencari peluang, apakah bos sebuah usaha kecil, atau mungkin departemen sales atau tim manajerial di sebuah perusahaan besar. Jika anda memulai usaha, anda harus menjadi seseorang yang secara konstan melihat peluang dan mampu mengenalinya. Mungkin hanya peluang kecil, seperti kesempatan menjemput klien baru, atau yang besar, seperti menempatkan produk anda di rak grosir terbesar, namun sebagai pemilik usaha kecil anda harus tetap mengamati masadepan dan posisi diri anda untuk mendapatkan keuntungan dari peluang yang didapatkan. Sebagai karyawan, mungkin anda terbiasa dengan posisi "kepala menunduk"; jika menjadi pengusaha yang berhasil, anda perlu melakukan posisi "kepala kedepan".

Menjadi pengusaha sangat berbeda dengan karyawan dan akan menjadi transisi yang sulit.

4. Ketika anda berwira usaha, anda harus mampu membuat rencana.

Pekerjaan terakhir anda mungkin tidak melibatkan perencanaan sama sekali, karena orang lain yang melakukannya. Atau mungkin membuat perencanaan ditingkat lokal, seperti perencanaan proyek tertentu. Jika ingin mulai usaha, anda perlu mengembangkan keahlian dalam perencanaan baik jangka pendek dan jangka panjang; yang akan menjadi bagian besar dalam diri anda.

Ketika anda mulai usaha, salah satu tugas anda adalah bekerja dengan business plan. Saat bisnis anda berjalan, anda akan menemukan perencanaan ini (sedetil apapun) perlu direvisi dan rencana lain perlu dibuat, karena anda bekerja dengan sasaran jangka panjang yang anda tetapkan untuk bisnis anda. Dari mengikuti rencana orang lain sebagai karyawan, anda harus belajar bagaimana menciptakan rencana bagi diri anda sendiri dan mengadaptasi rencana di lingkungan yang berubah.

5. Anda perlu mempersiapkan diri untuk masuk kedalam upaya yang konstan dan konsisten.

Kita semua telah melihat karyawan yang hanya bergerak, atau mereka yang hanya "menghabiskan waktu" sampai pensiun. Anda tidak perlu menjadi rekan kerja untuk tahu siapa saja orang ini. Sebagai seorang konsumen atau klien, anda dapat mengetahuinya. Memulai usaha memerlukan energi dan anda harus mampu memberikannya 100 persen. Konsumen atau klien anda harus tahu jika anda mengeluarkan bakat, ketrampilan, atau perhatian secara maksimal untuk mereka - dan mereka akan mencari ke tempat lain jika tidak mendapatkannya dari anda.

Yang lebih parah, anda perlu memberikan upaya yang konstan dan konsisten tanpa jaring pengaman karyawan. Banyak karyawan yang biasanya "sakit" dan ada orang lain yang menangani pekerjaannya, misalnya. Sebagai pengusaha, anda harus melakukannya sendiri dan memberikan upaya yang terbaik jika anda tidak memiliki karyawan yang dapat melakukannya. Anda juga mengucapkan selamat tinggal pada hari libur yang biasanya dinikmati karyawan, setidaknya sampai bisnis anda pada titik mapan, sehingga anda dapat mengatur waktu anda.

6. Harus mampu menghadapi ketidakpastian.

Sebagai seorang pengusaha, tidak ada jaminan produk atau layanan yang anda tawarkan masih diperlukan dalam waktu 6 bulan mendatang. Tidak ada jaminan bahwa konsumen anda akan membayar tagihan tepat waktu atau melunasinya. Tidak ada jaminan klien besar anda, yang nampaknya senang dengan kerja anda, tidak akan meninggalkan anda minggu depan. Tidak ada jaminan anda akan menghasilkan income bulan ini atau setelahnya. Bagi kebanyakan mantan karyawan yang terbiasa menerima gaji secara teratur, ketidakpastian ini menjadi hal yang sulit dihadapi.

Apakah anda masih bertanya-tanya, "Bagaimana saya harus memulai bisnis?" Bagus! karena inti dari artikel ini bukanlah menakut-nakuti anda, namun menyadarkan anda bagaiamana seharusnya menyesuaikan kembali pemikiran anda untuk melakukan transisi dari karyawan ke pengusaha.

Semoga setelah anda membaca list yang diperlukan untuk menjadi pengusaha sukses, anda berkata pada diri anda sendiri, "Saya dapat melakukannya". Karena setiap orang dengan ciri yang ada disini adalah sikap atau perilaku yang dapat dipelajari.

Sekarang anda tahu jenis orang seperti apa yang dapat menjalankan bisnis dan berhasil, kemana anda pergi setelah ini?

Oleh: Susan Ward

Tuesday, October 28, 2008

NURANIKU MENOLAK PORNOGRAFI BAGAIMANA DENGAN ANDA


Banyak kalangan yang menuduh sekaligus mencibir bahwa bangsa ini tidak perlu aturan untuk pornografi, tapi aneh semua sepakat jika pornografi harus dihentikan, aneh ya...? gitu-lah Indonesia. Mereka menganggap beberapa hal itu boleh-boleh saja jika itu masuk ranah pribadi.
Semua orang juga tahu jika melakukan "pornografi" entah itu telanjang atau adegan lainnya jika sendiri di kamar tidak ada yang melarang, tapi jika di depan orang lain yang itu bukan suami/istri anda menstinya jika waras nuraninya pasti akan menolak. Jika mau jangan-jangan kena gangguan jiwa yang namanya exhibisionisme.
Jika kita cermati RUU Pornografi ini, meski tidak maksimal menumpas pornografi, namun sudah sangat akomodatif. Saya rasa pihak yang mendukung sudah sangat mengalah untuk meluaskan makna porno untuk beberapa pengecualian, apa itu belum cukup...?
Nurani manusia pasti menolak pornografi, parameter makna porno jadi kabur jika manusia itu menggunakan kepentingannya sendiri-sendiri. Tidak dapat dipungkiri bisnis pornografi sangat menggiurkan (meski itu uangnnya jelas haram) para pelaku bisnis, penkoordinir, pembantu-pembantunya, bahkan penikmat pornografi akan menggunakan berbagai macam dalih untuk memaknaai pornografi. Padahal sekali lagi nurani manusia itu menolak.
Gini aja kali mungkin ini ekstrim pertanyaannya, namun menurutku bisa mengukur kepekaan nurani anda : J
IKA ANDA MEMILIKI ANAK/SAUDARA/ISTRI/SUAMI/KELUARGA YANG MEMINTA IZIN KEPADA ANDA UNTUK BERTELANJANG/MENJADI "AKTIVIS PORNO" DENGAN MENGATAKAN "Kan ini urusan pribadi saya, apalagi TIDAK ADA UNDANG-UNDANGNYA (sebab digagalkan oleh anda) karena saya senang melakukannya, iklash KOK TUBUH SAYA DILIHAT ORANG SEPERTI ARTIS-ARTIS BARAT YANG SUKSES JUGA KARENA MEREKA RELA "MENJUAL" HARGA DIRINYA! apa jawaban anda? Mungkin saat ini anda belum mendengarnya, tapi jika pengaruh pornografi semakin marak, dengan hiasan indah argumentasi otak anda tidak menutup kemungkianan akan muncul dari dalam keluarga anda sendiri. naudhubillahi min dzalik
Ini ada tulisan bagus dari Sirikit Syah tentang arogansi pemaknaan, munkin dapat menggugah anda.

[ Jawa Pos, Jum’at, 24 Oktober 2008 ]
Kekeliruan Memahami RUU Pornografi
Oleh Sirikit Syah

Publik kembali dihadapkan pada perdebatan sengit tentang perlu tidaknya negara memiliki UU Pornografi. Selain sengit, perdebatan yang mengulang peristiwa 2006 ini juga kurang seimbang.

Tanpa dilakukan penelitian khusus pun, konsumen media menangkap dominasi suara anti-RUU Pornografi di media massa, cetak maupun siaran (berita maupun talk show). Di mana suara mereka yang pro-RUU? Apakah memang tak ada yang pro; atau ada tapi kurang pandai mengekspresikan pendapat; atau media dengan sengaja tidak memberi mereka kesempatan?

Argumen yang diajukan penentang RUU itu-itu saja, dan kebanyakan tidak valid lagi dengan perubahan draf RUU 2008 dibanding draf 2006. Garis besar perubahan ini adalah a) berkurangnya pasal yang mengatur hingga separonya, terutama pasal yang mengatur pornoaksi, b) ditampungnya masukan dari pihak anti-RUU pada 2006, terutama perihal perlindungan pada masyarakat dan kesenian tradisional dan penghargaan terhadap multikulturalisme.

Prasangka para penentang terhadap “kepentingan politik” atau “kepentingan agama tertentu”, seperti disiratkan dalam tulisan Agus Sudibyo (JP, 21 Oktober), tidak mendasar. Bila tuduhannya “kepentingan politik”, fenomena penolakan RUU ini justru tidak populer bagi para oportunis di lingkungan legislatif. Bila ingin populer dan sukses secara politis, menentang RUU lebih menguntungkan.

Semua elemen masyarakat yang memiliki amplifier dan loud speaker (LSM dan media), pasti mengelu-elukannya. Sedangkan tuduhan “kepentingan agama”, di mana Islam menjadi sasaran bulan-bulanan, tidak mendasar karena mayoritas diam umat Islam tidak peduli.

Bila dicermati, demo dukungan terhadap RUU Pornografi sering hanya merupakan reaksi penyeimbang atas demo yang jauh lebih gencar dari kalangan anti-RUU.

Berbicara masalah substansi, kedua belah pihak sebetulnya bisa berangkat dari common ground, dasar yang sama, yaitu keduanya antipornografi. Setelah dasar ini disadari bersama, kedua belah pihak dapat mengurai dan membahas hal-hal yang dipandang berbeda, dengan tujuan mencapai kesepakatan.

Para perancang di DPR sudah melakukan bagian pekerjaannya, yaitu mengurangi pasal-pasal yang dianggap merisaukan. Sudahkah pihak penentang melakukan bagian pekerjaannya, misalnya mempertimbangkan masukan pihak pendukung RUU?

Tanpa selangkah surut seperti itu, penentang akan terus menentang secara membabi buta. Alasan-alasan mereka semakin terasa mengada-ada, bahkan kabur. Sebab, sebagian besar sudah dituruti para legislator dalam re-draf RUU versi 2008.

Ketakutan akan ancaman pada multikulturalisme dan integrasi bangsa sudah dipatahkan dengan terlindunginya masyarakat tradisional & ekspresi kesenian (pasal 14 yang mengecualikan mereka dari aturan umumnya). Dengan pasal ini, orang Papua berkoteka atau para penari berpakaian agak terbuka, tidak menjadi objek RUU. Para turis bertelanjang dada di Pantai Kuta Bali tentu bukan objek RUU. Jadi, industri pariwisata Bali tak perlu terlalu paranoia.

Perempuan Bali sendiri tak akan pamer payudara di hadapan publik, bukan? Kecemasan para sineas juga tak perlu karena bukankah selama ini mereka juga harus lolos gunting LSF?

Alasan lain ialah sudah adanya UU lain yang mengatur pornografi. Para penentang itu tidak cukup jujur untuk mengemukakan bahwa UU lain itu tidak menyebutkan kata “pornografi”, melainkan ”kesusilaan” (decency). UU Pers No 40/1999 pasal 5 ayat 1 menyebutkan penghormatan pada norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat. Pasal 282 KUHP mengatakan ”barang siapa melakukan pelanggaran kesusilaan”, dan UU Penyiaran No 32/2002 pasal 35 ayat 5.b menyebutkan pelarangan isi siaran yang menonjolkan -antara lain- unsur kecabulan.

Catatan sejarah menunjukkan beberapa kasus dugaan pornografi gagal dihukum karena saksi ahli di pengadilan berhasil meyakinkan hakim bahwa melanggar susila, sekalipun terbukti, tidak berarti pornografi.

Kemenangan majalah Playboy dari gugatan masyarakat di awal 2007 adalah salah satu buktinya. Pasal-pasal yang dulu diremehkan sebagai ”pasal karet” dan ditolak digunakan untuk menjerat ”kebebasan berekspresi dan kebebasan media”; kini menjadi pahlawan, bahkan modal perjuangan bagi para penentang RUU Pornografi.

Para penentang menginginkan kemenangan mutlak tanpa kompromi. Pasal-pasal lama adalah ”karet” dan pasal baru (RUU Pornografi) adalah ”memberangus”. Tujuan mereka adalah: pornografi tak perlu diatur negara. Padahal, negara sedang mempertaruhkan masa depan generasi muda: internet diserbu ratusan ribu situs porno (di Indonesia saja); siaran MTV dengan klip video yang penuh pelanggaran susila, yang di negeri asalnya disalurkan di TV Cable (berlangganan), gampang diakses di TV Indonesia; tabloid porno terus beredar meski kerap digerebek.

Para penentang juga berprasangka bahwa aparat akan mudah terangsang dan menggunakan itu sebagai alasan memberangus mereka yang sebetulnya tidak bermaksud ”merangsang”. Keberatan mereka akan frasa ”menimbulkan rangsangan seksual” adalah naif, karena hampir semua kamus bahasa Inggris mendefinisikan pornographydengan keterangan mengandung unsur sexual arousal. Bahwa aparat ”mudah terangsang” atau para penentang yang ‘’sulit terangsang” adalah persoalan pribadi yang tidak valid dibawa-bawa dalam diskusi aturan publik.

Prasangka buruk kepada komunitas seperti FPI (Front Pembela Islam) dan sejenisnya adalah kekhawatiran berlebihan, seperti pre-emptive action. Dicurigai sebelum terjadi. Seandainya memang terjadi FPI melakukan tindakan ngawur atas nama UU Pornografi, aparat dan publik dapat mengujinya secara terbuka: apakah sasaran FPI melanggar UU Pornografi atau FPI yang melakukan tindakan kriminal.

Kita adalah masyarakat demokratis yang hidup di negara hukum. Kita tahu mana yang benar dan mana yang melanggar. Tak sepatutnya para penentang mengatasnamakan kita -rakyat- untuk mencegah terbitnya UU Pornografi.


Sirikit Syah , analis media, mengajar di Stikosa-AWS dan FIB-Unair

gimana.....? masih menolak

Wednesday, October 15, 2008

INTELEKTUALITAS TIARAP



Ada sebuah artikel yang cukup menggugah para akademisi untuk berprestasi, saya tidak tahu beliau kecuali setelah baca artikelnya baru sayatahu beliau. Tidak penting siapa yang penting adalah isinya.
Pasalnya saya sudah merasakannya di dunia kampus saat saya kuliah, sunyi kreatifitas, apabila ada kadang cuma sebatas PROYEK dan OBYEKan agar dapat duit.
Miris memang! Bukan berarti mahasiswa saat itu tidak berkreasi, ada namun minoritas. Pendidikan sekarang lebih membuat mahasiswa mengejar IP tinggi tanpa dilandasi kreatifitas dan keaktifan lapangan. Nilai-nilai itu didapat dari teori yang mereka hafal sebab dosennya sendiri kurang memberikan diskusi yang hangat dan memberikan ruang untuk "berbeda"

Mahasiswa dimata saya, terbagi menurut saya ada 4 (empat) :

1. Mahasiswa Rumahan, rutenya rumah/kos - kampus PP
2. Mahasiswa Jalanan, Rumah/kos - kampus - Mall PP
3. mahasiswa Aktifis, Rumah/kos - Organisasi PP
4. Mahasiswa Akademis, Rumah/kos - Kampus - Perpus PP

Kesemua itu tidak saklek, bisa jadi saling bertautan, tapi secara umum ya itu. untuk Aktifis kadang ada juga yang menyertai dirinya ke Perpustakaan sebab banyak juga aktifik yang sukses jadi akademisi. Namun, jarang yang mau ke lapangan untuk menjadi pengiat inteprenuer padahal ini saat dibutuhkan untuk menutupi lapangan kerja, kemandirian jarang diminati oleh mahasiswa sekarang. Untuk menjadi negara maju setidaknya 1 % dari penduduknya adalah inteprenuer, maka jika di Indonesia setidaknya 2 juta orang intreprenuer, namun bangsa kita hanya memiliki 0,0018% saja.
Itu di dunia akademis. Gimana dengan dunia kerja? tentu akan lebih simpel yaitu rutinitas KERJA. Jarang saya menemui inovasikerja yang dilakukan oleh para pegawai negeri atau swasta kecuali sedikit. Iklim kita membentuk diri untuk CUKUP dengan apa yang ada makan dak makan asal kumpul mungkin itu salah satu filosofinya.

Jawa Pos [ Rabu, 15 Oktober 2008 ]
Kesunyian Intelektual Kampus
Oleh: Saratri Wilonoyudho

Hadiah Nobel merupakan penghargaan tertinggi terhadap karya (ilmiah) seseorang di berbagai bidang, terutama masalah sains, ekonomi, sastra, dan perdamaian. Tulisan ini tidak bermaksud "membandingkan" antara ilmuwan Barat dan ilmuwan kita, namun lebih ke arah upaya "koreksi" diri.

Sederhana saja alasannya: ada satu hal yang pantas dicatat dari para pemenang Nobel. Yakni, adanya rasa "haus" ilmu, keteguhan prinsip, kreativitas, dan semangat pantang menyerah.

Lihat saja para pemenang Nobel Sains, bidang yang mereka tekuni umumnya sudah berlangsung sampai puluhan tahun. Penemu pemetaan DNA juga baru memenangi Nobel ketika 40 tahun berlalu sejak dia tekuni.

Demikian pula pemenang Nobel Kimia tahun ini, dia sudah sibuk mengamati perilaku ubur-ubur sejak 1962, karya Yoichiro Nambu juga dilakukan sejak 1960-an, kemudian penemuan virus HIV juga sudah dimuali pada 80-an.

Karena itu, dapat dipahami jika usia para pemenang Nobel bidang sains sudah agak lanjut, di atas 70-an tahun. Ilmuwan Barat ketika meneliti rela hidup puluhan tahun di hutan hanya untuk melihat perilaku monyet atau seekor laba-laba. Hal tersebut dapat dilihat pada acara "dunia binatang" di berbagai TV swasta kita.

Demikian pula seorang antropolog wanita asal AS. Dia bahkan rela menjadi istri seorang kepala suku di Lembah Baliem Papua "hanya" agar dia lebih mudah untuk mempelajari perilaku suku tersebut.

Kapan Ikut "Gila?"

Kapan di negeri ini seorang ilmuwan berperilaku "gila" sebagaimana ditunjukkan oleh bangsa Barat tersebut? Kita masih malas "membaca", dan itu dimulai sejak SD dengan kurikulum resmi pula! Kurikulum sejak SD mengajarkan bahwa yang penting untuk bekal sekolah adalah "hafal" dan bukan mengerti. Siswa harus duduk manis dan menurut perintah guru, tidak boleh banyak cerita, apalagi protes.

Karena itu, dapat dipahami jika mereka sudah sampai di perguruan tinggi terjadi kesunyian karya-karya intelektual. Yang terjadi malah kasus tertipu "blue energy" atau kasus jual beli ijazah. Banyak mahasiswa yang malas, kemudian sulit menuangkan karya ilmiah.

Jangankan dalam bentuk skripsi atau tugas akhir, untuk membuat "paper" saja banyak di antara mereka yang harus menjiplak dan mengobrak-abrik bursa buku bekas di pasar yang menjual skripsi loakan atau memesan di biro jasa skripsi.

Demikian pula para guru besar yang mestinya menjadi panutan tengah dilanda kesunyian intelektual. Mereka sibuk menjabat di kantor pemerintahan atau kampus, mengasong ilmu di berbagai perguruan tinggi, atau sibuk berseminar dengan makalah yang sama di berbagai tempat dan hanya mengandalkan lesannya

Di universitas terkenal di Jawa Timur beberapa waktu silam terjadi sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan. Panitia seminar dibuat terbahak-bahak ketika seorang guru besar ternama di Indonesia membawakan makalah yang sama persis dengan tahun lalu dan di tempat yang sama. Fakta itu menunjukkan betapa rendahnya produktivitasnya.

Kalangan intelektual di berbagai perguruan tinggi tenggelam dalam budaya lesan dan kesunyian intelektual (lihat pula Amin Sweeny dalam A Full Hearing, 1987).

Dalam hitungan matematis, ber-"lesan ria" dalam berbagai seminar memang menguntungkan secara material karena honornya besar. Bandingkan dengan kalau dia membuat buku bermutu, dia harus "bertapa" lama, itu pun belum tentu laku dijual. Karena itu, wajar jika tidak ada buku-buku bermutu yang dihasilkan kaum intelektual di negeri ini.

Mahasiswa Sama Saja

Sebagian besar kaum mahasiswa juga sudah banyak yang terjebak di dunia "kapitalistik". Berangkat ke kampus sekadar "ritual" saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Indikatornya jelas, dia malas mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mereka umumnya hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa "nafsu" dan perasaan untuk mengembangkannya.

Targetnya sederhana, dapat "simbol" intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini.
Selain itu, banyak para peneliti yang menjadi "petualang", menerima penelitian pesanan untuk melegitimasi proyek-proyek tertentu. Ada peneliti seperti seorang superman karena setiap tahun selalu "memenangi" tiga judul proposal penelitian yang berbeda-beda bidang keahliannya, tanpa konsistensi sebagaimana ditunjukkan para pemenang Nobel tersebut.

Yang mengherankan, penelitian tersebut digarap sendiri alias "single fighter". Hari ini meneliti "kuda", besok sudah meneliti "buaya", dan bulan depan sudah sibuk bercengkerama dengan "kodok". Dia menjadi kaya raya karena pekerjaannya adalah melakukan kerjasama dengan para penilai di tingkat pusat.

Saratri Wilonoyudho , dosen Universitas Negeri Semarang.

KAPAN KITA BISA MAJU ....???
Web Hosting